Februari 06, 2009
Oleh :
Sepri nander (Buyung 06)
Harimau Sumatera merupakan salah satu sub spesies harimau yang masih ada di
Indonesia. Sayangnya 2 dari tiga subspesies harimau yang ada di Indonesia
tersebut sudah di anggap punah (Harimau Jawa dan Bali). Jumlah Harimau
Sumatera hanya 400-500 ekor tersebar di habitat alaminya di Sumatera,
Sehingga IUCN menetapkan satwa ini berstatus terancam (Critically
Endangered).Hal ini di akibatkan oleh tingginya tingkat perburuan dan
perdagangan satwa di Indonesia. Selain itu meningkatnya jumlah penduduk dan
kebutuhan ruang oleh manusia mempersempit habitat alami dari satwa ini.
Sebenarnya harimau dapat hidup di daerah mana saja, mulai dari hutan dataran
rendah, rawa, padang ilalang, sampai dataran tinggi asalkan satwa mangsanya
ada (mangsa utama Cervidae dan Bovidae). Artinya pertumbuhan populasi
harimau di pengaruhi oleh jumlah populasi satwa mangsa mereka.
Ini lah awal sumber permasalahan harimau sekarang ini yaitu timbulnya
konflik antara harimau dan manusia. Contoh konflik tersebut seperti harimau
memangsa ternak masyarakat atau menjadikan manusia sebagai sumber pakan
mereka.
Ada 3 hal harimau memulai konflik dengan manusia.
1. Sumber pakan mereka di hutan sulit di temukan
2. Harimau itu sendiri sudah tua, sakit atau memiliki cacat sehingga
menyulitkan mereka untuk berburu.
3. Harimau tersebut sedang hamil atau melahirkan.
Berkurangnya populasi satwa mangsa dihutan diakibatkan oleh bebera faktor,
yaitu perburuan yang tidak terkendali oleh manusia, penebangan yang tidak
terkontrol, sulitnya beradaptasi dengan lingkungan baru oleh satwa mangsa
tertentu, dan kebakaran hutan. Hal ini memaksa satwa mangsa tersebut untuk
beradaptasi dengan kondisi baru mereka. Sebagai contoh, Babi Hutan mampu
hidup di di areal perkebunan penduduk. Faktor inilah yang mendukung harimau
masuk kebun atau masuk desa.
Faktor umur dan fisik harimau juga mempengaruhi timbulnya konflik. Harimau
merupakan satwa yang penuh perhitungan dalam hal melakukan perburuan. Pada
keadaan normal harimau membutuhkan tenaga yang banyak dalam melakukan
penyergapan terhadap satwa mangsa mereka. Apa bila dalam satu kali
penyergapan satwa mangsa mereka dapat lolos, harimau akan membutuhkan waktu
untuk memulihkan tenaga mereka. Jadi apabila harimau itu sudah tua sakit
atau memiliki cacat mereka akan berburu mangsa yang gampang di dapat. Salah
satunya ya satwa peliharaan manusia atau manusia itu sendiri.
Harimau pada saat ini sering ditemukan beranak pada daerah semak belukar
dekat dengan pemungkiman penduduk dan setelah anaknya sudah siap untuk pisah
sapih baru dibawa kembali kedalam hutan. Ini mungkin saja dilakukannya karna
sumber pakannya terjamin (mulai dari babi hutan sampai mangsa yang paling
gampang di dapatkan).
Untuk itu dibutuhkan usaha konservasi yang dapat menciptakan jembatan
perdamain antara harimau dan manusia, sehingga keduanya tidak merasa
dirugikan. Karena inti konflik ini terjadi hanya disebabkan urusan perut
semata, harimau butuh makan dan manusia juga butuh makan.
lingk
http://telapak.org/index.php/Kehutanan/Konflik-Harimau-dan-Manusia-Te...
http://en.wikipedia.org/wiki/Tiger
http://72.14.235.132/search?q=cache:LW4dNQiBQbsJ:www.traffic.org/spec...
.
1 Comment:
kayaknya harus diralat tuh... buka harimau yang memulai konflik dengan manusia, karena gak pernah ada berita manusia yang diburu harimau...
kasih sumber yang valid dong biar gak salah persepsi
Post a Comment