HARIMAU SUMATERA

Maret 13, 2009

Di Posting Oleh Tedi wahyudi
Kalau mau lengkap Jurnalnya silahkan berkunjung ke perpustakaan Universitas Bengkulu

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi (Megabiodiversity). Tingginya keanekaragaman hayati ini bisa dilihat bahwa lebih kurang 10 persen seluruh jenis makhluk hidup di dunia terdapat di Indonesia, meskipun luas daratan Indonesia hanya 1,3 persen luas daratan dunia. Salah satu faktor penyebab tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia adalah terdapatnya hutan tropis basah. Hutan tropis basah dikenal sebagai salah satu tipe ekosistem yang kaya akan jenis, baik hewan maupun tumbuhannya (Wiryono, 1998).
Meningkatnya jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kebutuhan akan kayu dan lahan perkebunan mengakibatkan terjadinya penyusutan banyak habitat satwa maupun tumbuhan liar yang pada gilirannya mengancam kelestarian alam. Kepunahan jenis pada beberapa dekade terakhir ini sangat cepat dan mengkhawatirkan berbagai pihak yang peduli dengan kelestarian lingkungan.

Salah satu jenis satwa langka yang ada di Indonesia adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929), dimana merupakan satu-satunya dari anak jenis yang masih tersisa di Indonesia dan termasuk dari 5 anak jenis yang masih ada di dunia. Keberadaannya hingga saat ini semakin mengkhawatirkan, karena kehilangan habitat dan mangsanya (Bovidae dan Cervidae) sehingga, menyebabkan satwa yang hidup di pulau Sumatera semakin terancam keberadaannya. Saat ini diperkirakan jumlah Harimau Sumatera berkisar 400-500 ekor yang masih tersisa (Seidenstiker et al, 1999). Keadaan yang mengkhawatirkan ini menyebabkan The World Conservation Union (IUCN, 2004) menetapkan Harimau Sumatera berstatus terancam (critically endangered). Akibat maraknya perburuan dan perdagangan tersebu menjadikan Harimau Sumatera dimasukkan ke dalam Appendix I oleh Convension on International Trade in Endangered (CITES) artinya, satwa tersebut dilarang keras untuk diperdagangkan dengan alasan apapun.
Selama ini usaha konservasi harimau lebih banyak dilakukan di dalam taman nasional yang ada di Sumatera, akan tetapi tidak menutup kemungkinan Harimau Sumatera berada di luar kawasan konservasi. Salah satu taman nasional yang didiami oleh Harimau Sumatera adalah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berbatasan langsung dengan Propinsi Bengkulu dan Propinsi Sumatera Selatan. Luasnya wilayah jelajah harimau dan tingginya kebutuhan akan satwa mangsa mendorong mereka menjelajah di luar batas taman nasional. Berbeda dengan satwa lain yang mudah dijumpai di habitatnya, karakteristik Harimau Sumatera yang bersifat menyamar (cryptic) dan menghindar (elusive) menimbulkan kesulitan tersendiri dalam upaya penilaian status populasi satwa ini.
Terjadinya habituasi terhadap prilaku satwa ini mendorong penurunan populasi Harimau Sumatera di kawasan konservasi maupun di luar areal konservasi. Dampak dari habituasi ini akan mengakibat mudahnya satwa ini diburu dan di perdagangkan karena tinginya tingkat perjumpaannya dengan manusia. Ini bisa terlihat kecenderungan harimau dalam mencari mangsa pada daerah perkebunan atau daerah belukar yang berada yang berbatasan langsung dengan hutan.Contoh lain dari habituasi Harimau Sumatera ini dari kecenderungan mereka lebih senang melahirkan anak pada daerah perkebunan penduduk dan belukar. Hal ini di karenakan persebaran satwa mangsa mereka (terutama babi hutan) berada pada kedua habitat ini. Selain itu dalam hal perburuan mereka lebih gampang berburu mangsanya pada kedua daerah ini karena daerah ini lebih terbuka.
Populasi yang sangat sedikit ini akan mudah punah akibat bencana alam maupun masalah demografi dan genetik. Kondisi tersebut umum terjadi pada sub-populasi yang terisolasi satu dengan lainnya. Selain itu tingginya deforestasi hutan yang menyebabkan kerusakan habitat merupakan faktor utama dalam mempercepat punahnya jenis ini. Penyebab gangguan lain terhadap Harimau Sumatera adalah pembangunan daerah yang menuntut pembukaan kawasan hutan untuk berbagai kepentingan manusia, pengusahaan hutan, pemungkiman penduduk maupun usaha tradisional. Untuk itu dalam mencegah kepunahan Harimau Sumatera, perlu dibuat strategi konservasi yang tepat dengan melibatkan peran serta masyarakat luas (Wiryono, 1998).

Related Posts by Categories



0 Comments: